Arisha Berjuang Bertahan, Keluarga Berharap Dukungan untuk Pengobatan di Jakarta

topmetro.news, Medan – Bocoran darah dari jantungnya sudah merembes ke paru-paru. Operasi harus segera dilakukan. Namun di balik perjuangan medis itu, ada keluarga buruh harian yang kehabisan cara untuk bertahan.

Pagi itu tabung oksigen sudah berdiri di sudut kamar. Bukan milik orang tua yang uzur, melainkan penjaga napas seorang bocah berusia dua tahun yang bernama Arisha Zainabba Nasution. Setiap malam, ketika anak-anak seusianya tidur nyenyak, Arisha harus berjuang agar dadanya tetap mengembang.

Arisha lahir di Deli Serdang, 14 April 2024, dengan kondisi yang langsung mengubah hidup keluarga kecilnya. Dokter spesialis jantung anak di RSUP H Adam Malik, Medan, mendeteksi kebocoran pada sekat jantungnya.

Kondisi yang dalam dunia medis disebut VSD perimembran inlet-outlet dengan hipertensi pulmonal ringan-sedang. Dalam bahasa awam, ada lubang di jantungnya, dan darah bocor ke tempat yang seharusnya tidak.

Selama hampir dua tahun, kebocoran itu terus bekerja diam-diam. Darah yang seharusnya beredar normal justru menumpuk dan membebani paru-paru.

Pemeriksaan lanjutan di RS Jantung Jakarta mempertegas yang paling ditakutkan. Paru-paru Arisha sudah mulai terdampak serius. Dokter menegaskan, operasi tidak bisa ditunda lebih lama.

Rohana Boru Barus (30), ibu Arisha, sudah lupa bagaimana rasanya tidur tanpa was-was. Ia mengawasi anaknya hampir setiap menit, memastikan selang NGT yang terpasang di hidung Arisha tidak terlepas, memastikan oksigen mengalir, memastikan susu khusus yang diresepkan dokter tak dimuntahkan kembali.

“Ia tidak bisa makan seperti anak lain. Hanya susu khusus. Kalau terlalu banyak, ia muntah,” tutur Rohana, Rabu (20/5/2026).

Karena kondisi itu pula, berat badan Arisha sulit naik. Tubuhnya kecil, tetapi matanya menyala, seolah belum menyerah.

Kondisi Arisha mencakup empat tantangan sekaligus. Kebocoran sekat jantung berukuran besar (Large VSD), hipertensi pulmonal, penumpukan cairan berlebih di paru-paru, serta gangguan pernapasan yang kian berat.

Keempat komplikasi itu saling memperkuat satu sama lain. Mempersempit jendela waktu untuk bertindak.

Idealnya, operasi penutupan kebocoran jantung dilakukan sebelum anak berusia dua tahun, saat jaringan masih tumbuh dan pemulihan lebih mudah.

Namun keluarga Arisha baru bisa membawanya ke Jakarta sekarang. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak mampu.

Sang ayah, Zulfikar Nasution (32), berangkat pagi-pagi ke pabrik sabun di Patumbak. Ia buruh harian, bergaji UMR Deli Serdang.

Warga Dusun II Desa Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini harus menopang hidup istri, Arisha, serta kebutuhan pengobatan yang terus bertambah.

Sudah hampir dua tahun ia bolak-balik ke RS Adam Malik, menebus obat pembuang cairan, menjalani terapi jantung, menemani putrinya yang terpasang berbagai selang dan alat bantu. BPJS memang menanggung biaya pengobatan utama.

Namun ada banyak hal yang tidak masuk dalam daftar tanggungan. Seperti biaya hidup ibu dan pendamping selama tiga bulan di Jakarta, susu nutrisi khusus Arisha, popok, vitamin, obat-obatan tambahan, tabung oksigen, hingga tiket kepulangan setelah operasi selesai.

Tiket keberangkatan ke Jakarta pun diperoleh dari urunan sanak saudara dan dermawan yang mendengar kabar Arisha. Namun itu hanya cukup untuk sampai, tidak untuk bertahan selama tiga bulan proses pengobatan.

“Kami hanya ingin melihat Arisha bisa bernapas lebih lega, tumbuh sehat, dan punya kesempatan hidup lebih panjang,” kata Zulfikar, pelan.

Kini Arisha dan ibunya sudah berada di Jakarta, menunggu jadwal operasi di RS Jantung Jakarta. Kondisi Arisha dipantau ketat, dokter berharap penutupan kebocoran jantung dapat dilakukan dalam waktu dekat sebelum kerusakan paru-paru meluas lebih jauh.

Di rumah sederhana di Dusun II Desa Lantasan Lama, Patumbak, Deli Serdang, Zulfikar masih berangkat pagi ke pabrik. Ia memikul dua beban sekaligus, nafkah keluarga dan biaya hidup istri serta putrinya di kota yang jauh.

Bantuan dalam bentuk apa pun akan sangat berarti bagi keluarga kecil ini. Karena bagi Arisha, setiap hari memang adalah perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Mari bersama menjadi jalan harapan untuk Arisha.

Bantuan dapat disalurkan langsung ke Rek Bank BNI : 409856729, atas nama Zulfikar Nasution dengan nomor telepon yang dapat dihubungi 0822-7779-5605.

sumber | RELIS

Related posts

Leave a Comment